13 Oct 2017

Upcycle ~ Membuat Ciput Rajut dari Baju Lama

Ngacung dulu buat yang pakai jilbab. Karena yang bakalan aku bikin kali ini khusus untuk yang berhijab ya. Mumpung sekarang lagi trend ciput rajut, jadi kepikiran deh buat upcyle baju rajut aku yang sudah lama tak terpakai.


Emang dalaman jilbab yang berbahan rajut ini lebih enak dan nyaman banget dipakainya. Kalau dipakai lama juga nggak bikin sakit di kepala dan kuping. Jadi kalau kamu ada baju atau cardigan rajut yang nggak terpakai, nggak ada salahnya juga cobain di-upcycle menjadi ciput / dalaman jilbab berbahan rajut.

Yuk kalau gitu langsung aja simak cara membuatnya ya.

1. Siapkan pakaian bekas yang berbahan rajut. Bisa baju, sweater atau cardigan. FYI, usahakan bahan pakaian rajut yang akan dipakai adalah yang tidak terlalu tebal dan jarak rajutannya rapat, agar nyaman dipakai.


Potong pakaian tersebut dengan ukuran 41 cm x 26 cm seperti pada gambar di bawah ini. Bagian ujung bawah baju rajutan akan digunakan sebagai bagian muka/dahi pada dalaman jilbab. Jika kamu menggunakan cardigan rajut, maka bagian yang dipotong adalah cardigan bagian belakang.


2. Lipat potongan bahan menjadi dua. Atur supaya bagian baik kain saling berhadapan, sehingga bagian buruk kain yang berada di sisi luar. Kemudian sambungkan/jahit, beri jarak 1 cm dari tepi kain sebagai kampuh.
Oh iya, menjahit bahan rajutan juga gampang-gampang susah seperti menjahit kaos. Kadang suka loncat-loncat jahitannya. Di sini aku menggunakan jarum nomor 14. Dan pada saat menjahit, usahakan kain agak ditarik sedikit (jangan berlebihan) agar jahitan juga stretch mengikuti sifat kain. 


3. Lipat ujung bagian atas membentuk wiru/lipitan dan tahan dengan jarum pentul. Kemudian jahit, beri jarak kampuh 1cm.

4. Jahit zigzag bagian tepi kain agar tidak brudul. Atau bisa juga diobras kalau kalian punya mesin obras karena akan lebih rapi lagi hasilnya.




Dan taraaaa... Ciput rajut ini sudah siap dipakai. asilnya gak kalah kan ama ciput rajut yang dibeli di toko sebelah. 😄


23:38 No Comments

4 Oct 2017

Makeover Pashmina yang Kependekan

Pernah beli pashmina tapi berasa kependekan alias kurang panjang? Aku sih sering banget. Buat aku, pashmina yang panjangnya nggak sampai 2meter itu kalau dipakai di badan aku jatuhnya jadi tanggung. Jadi kalau aku lagi pengen pakai model tertentu, kurang bisa maksimal nutupin dada.



Tapi kalau udah suka ama motifnya ya mau gimana lagi, kadang tetep dibeli juga itu pashmina. Dan ujung-ujungnya juga tuh jilbab jadi jarang kepakai. Sayang kan kalau cuma ngendon doank di lemari.

Nah bagai mendapat pangsit wangsit dari Gunung Kidul  😄 , mendadak kok aku ada ide nih buat makeover beberapa pashmina aku biar jadi makin panjang. Gimana caranya? Ya jelas disambung lah, namanya juga biar makin panjang, hihihi. Aku akan menyambungnya di kedua sisi ujung pashmina dengan kain yang akan kuberi "sedikit" aksen ruffle (kerutan).

Sebelum memulai, kita juga perlu memperhatikan komposisi bahan, warna, motif dan lebar dari kedua bahan yang akan disatukan. Jangan asal sambung-menyambung menjadi satu ya. Jangan sampai saling tabrak, entar ditilang pak polisi. Nah loe, nggak nyambung. 😂

Aku pilih yang gampang aja. Kebetulan punya pashmina sifon berwarna hitam polos, jadi nggak susah juga cari warna yang serasi sebagai kain tambahannya. Dan pilihanku jatuh kepada kain sifon dengan warna dasar hitam bermotif daun putih - abu sebagai kain sambungannya (bahan untuk ruflle).

 Umumnya ukuran pashmina adalah 175 x 70cm. Kali ini aku memakai 2 buah kain sambungan (untuk bahan ruffle) dengan ukuran masing-masing yaitu 21cm x 85cm (sudah termasuk kelebihan kain untuk ruang menjahit kampuh dan kelim). Sehingga setelah disambung nantinya panjang pashmina akan menjadi sekitar 215cm.

Panjang kain untuk sambungannya aku lebihkan 15cm dari lebar pashmina untuk membuat sedikit kesan ruffle(kerutan). Sengaja aku buat "sedikit saja" terlihat berkerut (ruffle) karena aku ingin agar tidak terlalu terlihat ramai, Ini sesuai selera aja sih, jadi silakan menyesuaikan panjang dan lebar kain sesuai selera untuk menghasilkan panjang pashmina seperti yang diinginkan.



Buat ruffle pada kain sambungan seperti gambar di atas. Lihat di sini untuk cara menjahit ruffle (kerutan) pada kain.  Sesuaikan panjang ruffle agar sama ukurannya dengan lebar pashmina yaitu 70 cm,. Lalu gabungkan ujung pasmina dengan kain sambungan dengan cara menjahitnya di bagian tanda garis putus-putus berwarna merah seperti pada gambar di bawah ini. Lakukan pada masing-masing sisi kanan dan kiri pashmina. Jangan lupa pada saat menjahit kain, posisikan bagian baik kain saling berhadapan.

   

Dan hasilnya akan terlihat seperti gambar di atas ini.Pashmina aku sekarang udah panjang. Makin cantik ya? 


19:29 No Comments

2 Oct 2017

I'm Coming Back

Hai hai, apa kabar semuanya? Masih cinta dunia craft kan? Masi suka ber-DIY ria? Masih suka main-main ama jarum dan benang ? Masih main-main ke blog Jemari Ayumna ini? Huaaaaa aseli aku kangen banget ama semuanya, termasuk sahut-sahutan di komen dan mampir balik ke blog kalian. 😭

Ternyata udah setahunan yah aku ngilang di mari. Huhuhuu. Blog inipun juga sangat amat jarang banget aku intipin. Jadi maafkan yah, karena pastinya banyak komentar-komentar maupun pertanyaan dari teman-teman semua yang gak aku balas. 😭

Bagiku, ternyata konsisten menulis itu emang susah banget yah. Atau kayaknya memang aku orang yang susah untuk konsisten di segala hal. 😭 Jujur, karena aku tuh orangnya moody'an. Kalau udah ada satu atau beberapa hal yang ngeganggu di pikiran meskipun dikit aja, ilang deh itu mood. Gak profesional donk? Iya, dan aku memang harus terus dan terus belajar untuk menjadi blogger yang profesional. *eciyeh*

Nah kalau sempet lama ngilang gini, pasti ada beberapa pertanyaan yang sering muncul. Eh emang kalian bakalan nanya? *KEPEDEAN ini sih, hahahah*

Ngapain aja selama ini? 
Hemm, aku sendiri juga bingung mau ngejawab apa, hahhaha. Yang jelas sih masih main-main DIY juga, hunting kreasi / tutorial craft di berbagai media buat nambah-nambah ilmu dan inspirasi. Cuman emang beberapa waktu kemarin sempat belajar menggeluti dunia phonetography alias foto-foto layaknya photographer profesional tapi menggunakan kamera ponsel. *meskipun belom jadi profesional juga 😄 * Ternyata seru juga sih, dan yah biar foto-foto di blog aku nantinya jadi lebih kece juga kan.
Koq ga diposting di blog? 
Ehem ehemm.. Tetep "moody" yang jadi alasannya. 😄  Cuman sempat ada juga beberapa karya yang aku posting di beberapa medsos. Jadi, yuk ah di follow Instagram dan like Facebook Fanpage Jemari Ayumna yah. *ngiklan*

Baiklah, mohon doanya agar aku bisa konsisten nulis di mari ya, terutama untuk sharing kreasi DIY. Dan maafkan bahasaku yang masih acak adul karena lama gak nulis dan merangkai kata-kata. Sampai jumpa di kreasi DIY Ayumna selanjutnya. 😘


12:38 No Comments

23 Aug 2016

Cara Membuat Ruffle atau Kerutan pada Kain

Buat kamu yang ingin tampil lebih feminim, penambahan aksen rempel atau ruffle sering digunakan untuk menghiasi berbagai model rok atau pakaian wanita. Nggak hanya itu, aksen ruffle atau kerutan ini juga sering ditambahkan sebagai pemanis pada mukena, jilbab maupun aksesoris lainnya yang berbahan dasar kain. Biarpun aku sudah manis, aku tetap suka loh pakai baju atau aksesoris yang berbau ruffle gitu. :p
 
Di dunia jahit menjahit, tentu kita harus mengetahui teknik cara menjahit kerutan pada kain. Dan ternyata, ada banyak cara untuk membuat jahitan kerutan ini, mulai dari menjahit manual menggunakan tangan, membuat trik jahitan dengan mesin jahit, bahkan dengan bantuan sepatu mesin jahit khusus untuk membuat kerutan atau ruffle.


Cara paling mudah dan praktis untuk menjahit kerutan sebenarnya adalah dengan memakai bantuan sepatu mesin jahit khusus yaitu gathering foot (sepatu kerut). Karena bukan sepatu mesin jahit yang biasa dipakai pada umumnya, dan biasanya tidak include pada saat pembelian mesin jahit, maka tidak semua orang mempunyai sepatu kerut ini.

Nah kali ini aku akan menunjukkan tips dan trik cara menjahit kerutan menggunakan mesin jahit dengan cara manual seperti yang kebanyakan orang lain lakukan. Buat kamu yang nggak punya gathering foot (ruffling foot), keempat cara di bawah ini bisa jadi alternatif pilihan untuk membuat kerutan rempel menggunakan mesin jahit. Dulu cara lama ini juga biasa aku lakukan sebelum aku membeli gathering foot.

Klik halaman berikutnya ( page 2 - 5 ) untuk melihat cara dan langkah membuat kerutan pada kain.

Page :
1 2 3 4 5
17:42 14 Comments

24 May 2016

Dibalik Nasi Pecel yang "Mahal"


Hari ini aku bersyukur, atas seijin Tuhan, aku dan suamiku telah dipertemukan dengan seseorang. Seorang ibu yang berhasil memberikan banyak pelajaran berharga padaku setelah bertemu dan sedikit berbincang-bincang dengannya tadi pagi.

Sebut saja namanya Bu Ana (*bukan nama sebenarnya, nama sengaja disamarkan demi menjaga privacy si ibu). Dulunya dia seorang guru paud. Dari kasak-kusuk yang aku tahu, dia dikenal memiliki kepribadian yang agak berbeda dari orang pada umumnya. Sebagian orang menganggapnya "rada-rada". Entah maksudnya rada lemot, rada (*maaf) kurang waras atau gimana.

Singkat cerita, selama mengajar ia sering mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari teman sesama profesinya, karena mungkin dianggap kurang berpotensi. Sehingga beliau keluar dari pekerjaannya. Hingga pada akhirnya, musibah pun datang silih berganti.

Kata beliau, suaminya sekarang keluar dari pekerjaannya. Tapi dari kasak kusuk yang terdengar, kabarnya si suami terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. Subhanallah, jika memang gosip itu benar, sungguh mulianya seorang istri yang tidak mengeluhkan masalah yang sedang dihadapi suaminya bahkan menutupi kekurangan suaminya pada orang lain.

Ditambah lagi, sudah lama anaknya juga sedang mengalami penyakit yang cukup terbilang kronis. Dan lagi-lagi, ia tidak tampak mengeluhkan keadaannya.

"Saya juga kalo lagi di rumah sambil momong anak kok mbak", hanya itu ceritanya.
Bu Ana, terkadang papaku memanggil beliau bu haji. Ya bu haji/ hajah. Yang artinya beliau pernah pergi ke tanah suci untuk beribadah haji. (*Ini sih lupa-lupa ingat, suaminya aja yang berhaji atau barengan ama si ibu juga, tapi papaku kadang tetap panggil dia bu haji). Ibadah haji, yang menurut perintah agama Islam memang perlu dilaksanakan terutama bagi orang yang mampu.

Bu Ana, seorang mantan guru yang pernah kuliah itu, kini berdagang nasi pecel. Sambil mengayuh sepeda, nasi pecelnya ia jajakan setiap pagi keliling komplek dengan kakinya yang beralaskan sandal jepit. Ya sepeda ontel, bukan sepeda motor.

Berbekal nasi di dalam rantang yang dia taruh di keranjang depan sepedanya. Pilihan lauk pun hanya satu saja, tidak ada pilihan lain. Walaupun memang setiap hari ia menyajikan menu lauknya berbeda, entah itu bandeng presto, ikan panggang atau ayam. Ya, mungkin keterbatasan modal sehingga ia hanya bisa menyajikan satu menu saja. Lauk, bumbu pecel, sayur, dan daun pisang pembungkus nasi pecel ia taruh di kantong seperti kantong tas kurir barang yang terbuat dari karung yang disematkan di boncengan sepedanya.

Ia tetap terlihat tegar dan bersyukur dengan keadaannya yang sekarang. Keadaan yang mungkin sama sekali dia tidak pernah inginkan. Namun beliau jalani seolah tanpa beban dan tak pernah sedikitpun terlihat sedih atau mengeluh.

"Yang penting kerja halal ya mbak", katanya dengan senyumnya yang terlihat bangga. Oh andai ibu tahu, saya pun merasa sangat bangga bisa bertemu langsung denganmu.
Bahkan dalam keadaan yang mungkin bagi sebagian orang merasa Tuhan tidak pernah adil dengan apa yang terjadi pada kehidupannya, beliau dengan teguh masih setia beribadah berjamaah di masjid. Mengingat karuniaNya, bersyukur dengan semua rejeki yang telah diperoleh. Berdoa dan berkeluh kesah hanya padaNya. Pun ia juga rutin ikut pengajian di kompleks rumahnya. Terkadang juga dengan tulus ia memberi nasi pecel gratis untuk sang imam masjid.

Ya Tuhan, malu hati ini. MALU, karena sering mengeluh walau sedang menghadapi masalah kecil sekalipun. Malah kadang sampai ku update permasalahanku di status FBku. Pajang DP BBM yang ada sangkut pautnya dengan permasalahanku kalau lagi kesel biar semua orang pada tahu.

MALU, karena sering merasa Engkau tak adil dengan apa yang terjadi padaku, Tuhan. Seolah masalah datang bertubi-tubi hingga membuatku mengeluh "Ya Allah, masalah apa lagi ini, ya Allah..".

Sedangkan Bu Ana, yang masalahnya terlihat lebih rumit bahkan jauh lebih rumit daripada masalahku, tetap terlihat tenang menjalani hari-harinya. Seolah tak pernah ada yang perlu dikeluhkan dan disesali. Seolah ia sudah tahu bahwa roda pasti berputar, dan ia siap menghadapinya kapanpun Allah menghendaki.

Baru hari ini aku bisa bertemu langsung dengan beliau. Hari ini menu lauk nasi pecel beliau adalah ayam suwir. Nasi pecel yang sedap dan nikmat karena bumbunya dibikin sendiri. Dengan sayurnya yang khas, berisi tauge dan kembang turi. Nasi pecel yang harum karena terbungkus full dengan daun pisang. Beliau hargai hanya dengan Rp.7.000. Ya, harga yang terbilang cukup murah dengan porsi yang melimpah.


Tadi, aku beli dua bungkus saja, yang artinya aku harus membayar Rp.14.000,-. Kebetulan aku sedang mengantongi uang Rp.15,000,- dan kupakai untuk membayar nasi pecel si Ibu.

"Udah Bu kembaliannya nggak usah", kataku sambil menyodorkan uang pembayaranku.
Maksudku bilang begitu biar si Ibu nggak usah repot cari uang kembalian dan bisa langsung pulang, karena bumbu pecelnya juga udah habis. Meskipun sepintas kulihat nasi dan sayurnya masih ada. Dan tanpa disangka, seketika itu juga jawaban si Ibu Ana berhasil membuatku makin merinding.

"Eh enggak mbak, jangan", sahutnya.
"Nggak apa-apa bu", jawabku.
"Aduh jangan mbak nanti NGGAK BERKAH NGGAK HALAL, bentar saya ambilin kembaliannya yang seribu", kata Bu Ana.
Ya Allah, kesentil bangeeetttt ini hati. Duh Gusti, duit kembalian seribu rupiah yang udah ku ikhlasin nggak perlu pakai kembalian aja dia nggak mau terima. Benar-benar ia tolak, beliau takut nggak halal. Nah gimana dengan duit hasil nilep, hasil suap, hasil riba, hasil korupsi, dan kawan-kawannya?

Ya Allah, bersyukur banget bisa bertemu dengan ibu Ana. Ibu penjual nasi pecel yang "mahal" ini memberikan aku dan suamiku banyak pelajaran dan ilmu berharga walaupun bukan dari nasehatnya, melainkan dari perilaku dan tutur katanya. Nasi pecel yang terlihat sederhana yang berharga "murah", namun banyak tersimpan ilmu yang "mahal" di dalamnya.

Banyak sekali hikmah yang bisa aku petik dari pelajaran Bu Guru Ana. Melalui nasi pecelnya yang "mahal" ini, ia mengajarkanku betapa kita harus selalu bersyukur dengan apapun yang terjadi, jangan pernah mengeluh. Bagaimanapun keadaannya, tetap carilah rejeki yang halal dan barokah, jangan pernah berharap belas kasihan orang lain. Dan jangan lupa tetap berbagi dengan sesama walau dalam keadaan sempit sekalipun, walaupun kamu hanya bisa bersedekah sebungkus nasi pecel atau bahkan memberi bonus tambahan porsi berlebih untuk pelangganmu.

Meskipun hanya melalui sikapnya, ia seolah mengingatkanku bahwa semua yang terjadi di kehidupan kita ini adalah atas kehendakNya. Tuhan selalu punya maksud dan tujuan untuk kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Walaupun mungkin dengan cara yang tidak pernah kita inginkan bahkan sekalipun tidak mampu kita pahami.

Terimakasih Ibu Ana, walaupun engkau tidak lagi menjadi seorang Guru, tapi engkau tetap bagaikan seorang Guru buatku. Perjuanganmu adalah inspirasiku. Walaupun orang-orang anggap engkau "lemot" atau apapun itu, namun aku tetap menganggapmu "orang hebat", karena aku belum tentu bisa setegar dirimu. Terimakasih telah membuatku menulis kisah ini sambil berkaca-kaca, bukan semata karena aku kasihan kepadamu. Melainkan karena aku sangat malu pada diriku sendiri. Terimakasih Tuhan, karena engkau kirimkan Ibu Ana kepadaku hari ini, untuk menyentil diriku agar selalu ingat padaMu.

Engkau memang bukan lagi seorang guru, tapi bisa jadi ini memang kehendakNya. Karena mungkin Tuhan tahu bahwa engkau tidak layak jika menjadi seorang guru Paud. Engkau lebih layak mengelola rumah makan/restoran milikmu suatu saat nanti, karena masakanmu sangat enak. Apalagi dibuatnya dengan penuh cinta dan rasa syukur.

Aku percaya tidak ada kerja keras yang sia-sia. ALLAH akan hadirkan pelangi setelah hujan dan badai.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Alam Nasyroh: 5-6)
Semoga ibu sekeluarga selalu diberi kesehatan dan Allah bukakan pintu rejeki yang selebar-lebarnya. Aamiiinnn....

16:10 11 Comments