24 May 2016

Dibalik Nasi Pecel yang "Mahal"


Hari ini aku bersyukur, atas seijin Tuhan, aku dan suamiku telah dipertemukan dengan seseorang. Seorang ibu yang berhasil memberikan banyak pelajaran berharga padaku setelah bertemu dan sedikit berbincang-bincang dengannya tadi pagi.

Sebut saja namanya Bu Ana (*bukan nama sebenarnya, nama sengaja disamarkan demi menjaga privacy si ibu). Dulunya dia seorang guru paud. Dari kasak-kusuk yang aku tahu, dia dikenal memiliki kepribadian yang agak berbeda dari orang pada umumnya. Sebagian orang menganggapnya "rada-rada". Entah maksudnya rada lemot, rada (*maaf) kurang waras atau gimana.

Singkat cerita, selama mengajar ia sering mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari teman sesama profesinya, karena mungkin dianggap kurang berpotensi. Sehingga beliau keluar dari pekerjaannya. Hingga pada akhirnya, musibah pun datang silih berganti.

Kata beliau, suaminya sekarang keluar dari pekerjaannya. Tapi dari kasak kusuk yang terdengar, kabarnya si suami terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. Subhanallah, jika memang gosip itu benar, sungguh mulianya seorang istri yang tidak mengeluhkan masalah yang sedang dihadapi suaminya bahkan menutupi kekurangan suaminya pada orang lain.

Ditambah lagi, sudah lama anaknya juga sedang mengalami penyakit yang cukup terbilang kronis. Dan lagi-lagi, ia tidak tampak mengeluhkan keadaannya.

"Saya juga kalo lagi di rumah sambil momong anak kok mbak", hanya itu ceritanya.
Bu Ana, terkadang papaku memanggil beliau bu haji. Ya bu haji/ hajah. Yang artinya beliau pernah pergi ke tanah suci untuk beribadah haji. (*Ini sih lupa-lupa ingat, suaminya aja yang berhaji atau barengan ama si ibu juga, tapi papaku kadang tetap panggil dia bu haji). Ibadah haji, yang menurut perintah agama Islam memang perlu dilaksanakan terutama bagi orang yang mampu.

Bu Ana, seorang mantan guru yang pernah kuliah itu, kini berdagang nasi pecel. Sambil mengayuh sepeda, nasi pecelnya ia jajakan setiap pagi keliling komplek dengan kakinya yang beralaskan sandal jepit. Ya sepeda ontel, bukan sepeda motor.

Berbekal nasi di dalam rantang yang dia taruh di keranjang depan sepedanya. Pilihan lauk pun hanya satu saja, tidak ada pilihan lain. Walaupun memang setiap hari ia menyajikan menu lauknya berbeda, entah itu bandeng presto, ikan panggang atau ayam. Ya, mungkin keterbatasan modal sehingga ia hanya bisa menyajikan satu menu saja. Lauk, bumbu pecel, sayur, dan daun pisang pembungkus nasi pecel ia taruh di kantong seperti kantong tas kurir barang yang terbuat dari karung yang disematkan di boncengan sepedanya.

Ia tetap terlihat tegar dan bersyukur dengan keadaannya yang sekarang. Keadaan yang mungkin sama sekali dia tidak pernah inginkan. Namun beliau jalani seolah tanpa beban dan tak pernah sedikitpun terlihat sedih atau mengeluh.

"Yang penting kerja halal ya mbak", katanya dengan senyumnya yang terlihat bangga. Oh andai ibu tahu, saya pun merasa sangat bangga bisa bertemu langsung denganmu.
Bahkan dalam keadaan yang mungkin bagi sebagian orang merasa Tuhan tidak pernah adil dengan apa yang terjadi pada kehidupannya, beliau dengan teguh masih setia beribadah berjamaah di masjid. Mengingat karuniaNya, bersyukur dengan semua rejeki yang telah diperoleh. Berdoa dan berkeluh kesah hanya padaNya. Pun ia juga rutin ikut pengajian di kompleks rumahnya. Terkadang juga dengan tulus ia memberi nasi pecel gratis untuk sang imam masjid.

Ya Tuhan, malu hati ini. MALU, karena sering mengeluh walau sedang menghadapi masalah kecil sekalipun. Malah kadang sampai ku update permasalahanku di status FBku. Pajang DP BBM yang ada sangkut pautnya dengan permasalahanku kalau lagi kesel biar semua orang pada tahu.

MALU, karena sering merasa Engkau tak adil dengan apa yang terjadi padaku, Tuhan. Seolah masalah datang bertubi-tubi hingga membuatku mengeluh "Ya Allah, masalah apa lagi ini, ya Allah..".

Sedangkan Bu Ana, yang masalahnya terlihat lebih rumit bahkan jauh lebih rumit daripada masalahku, tetap terlihat tenang menjalani hari-harinya. Seolah tak pernah ada yang perlu dikeluhkan dan disesali. Seolah ia sudah tahu bahwa roda pasti berputar, dan ia siap menghadapinya kapanpun Allah menghendaki.

Baru hari ini aku bisa bertemu langsung dengan beliau. Hari ini menu lauk nasi pecel beliau adalah ayam suwir. Nasi pecel yang sedap dan nikmat karena bumbunya dibikin sendiri. Dengan sayurnya yang khas, berisi tauge dan kembang turi. Nasi pecel yang harum karena terbungkus full dengan daun pisang. Beliau hargai hanya dengan Rp.7.000. Ya, harga yang terbilang cukup murah dengan porsi yang melimpah.


Tadi, aku beli dua bungkus saja, yang artinya aku harus membayar Rp.14.000,-. Kebetulan aku sedang mengantongi uang Rp.15,000,- dan kupakai untuk membayar nasi pecel si Ibu.

"Udah Bu kembaliannya nggak usah", kataku sambil menyodorkan uang pembayaranku.
Maksudku bilang begitu biar si Ibu nggak usah repot cari uang kembalian dan bisa langsung pulang, karena bumbu pecelnya juga udah habis. Meskipun sepintas kulihat nasi dan sayurnya masih ada. Dan tanpa disangka, seketika itu juga jawaban si Ibu Ana berhasil membuatku makin merinding.

"Eh enggak mbak, jangan", sahutnya.
"Nggak apa-apa bu", jawabku.
"Aduh jangan mbak nanti NGGAK BERKAH NGGAK HALAL, bentar saya ambilin kembaliannya yang seribu", kata Bu Ana.
Ya Allah, kesentil bangeeetttt ini hati. Duh Gusti, duit kembalian seribu rupiah yang udah ku ikhlasin nggak perlu pakai kembalian aja dia nggak mau terima. Benar-benar ia tolak, beliau takut nggak halal. Nah gimana dengan duit hasil nilep, hasil suap, hasil riba, hasil korupsi, dan kawan-kawannya?

Ya Allah, bersyukur banget bisa bertemu dengan ibu Ana. Ibu penjual nasi pecel yang "mahal" ini memberikan aku dan suamiku banyak pelajaran dan ilmu berharga walaupun bukan dari nasehatnya, melainkan dari perilaku dan tutur katanya. Nasi pecel yang terlihat sederhana yang berharga "murah", namun banyak tersimpan ilmu yang "mahal" di dalamnya.

Banyak sekali hikmah yang bisa aku petik dari pelajaran Bu Guru Ana. Melalui nasi pecelnya yang "mahal" ini, ia mengajarkanku betapa kita harus selalu bersyukur dengan apapun yang terjadi, jangan pernah mengeluh. Bagaimanapun keadaannya, tetap carilah rejeki yang halal dan barokah, jangan pernah berharap belas kasihan orang lain. Dan jangan lupa tetap berbagi dengan sesama walau dalam keadaan sempit sekalipun, walaupun kamu hanya bisa bersedekah sebungkus nasi pecel atau bahkan memberi bonus tambahan porsi berlebih untuk pelangganmu.

Meskipun hanya melalui sikapnya, ia seolah mengingatkanku bahwa semua yang terjadi di kehidupan kita ini adalah atas kehendakNya. Tuhan selalu punya maksud dan tujuan untuk kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Walaupun mungkin dengan cara yang tidak pernah kita inginkan bahkan sekalipun tidak mampu kita pahami.

Terimakasih Ibu Ana, walaupun engkau tidak lagi menjadi seorang Guru, tapi engkau tetap bagaikan seorang Guru buatku. Perjuanganmu adalah inspirasiku. Walaupun orang-orang anggap engkau "lemot" atau apapun itu, namun aku tetap menganggapmu "orang hebat", karena aku belum tentu bisa setegar dirimu. Terimakasih telah membuatku menulis kisah ini sambil berkaca-kaca, bukan semata karena aku kasihan kepadamu. Melainkan karena aku sangat malu pada diriku sendiri. Terimakasih Tuhan, karena engkau kirimkan Ibu Ana kepadaku hari ini, untuk menyentil diriku agar selalu ingat padaMu.

Engkau memang bukan lagi seorang guru, tapi bisa jadi ini memang kehendakNya. Karena mungkin Tuhan tahu bahwa engkau tidak layak jika menjadi seorang guru Paud. Engkau lebih layak mengelola rumah makan/restoran milikmu suatu saat nanti, karena masakanmu sangat enak. Apalagi dibuatnya dengan penuh cinta dan rasa syukur.

Aku percaya tidak ada kerja keras yang sia-sia. ALLAH akan hadirkan pelangi setelah hujan dan badai.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Alam Nasyroh: 5-6)
Semoga ibu sekeluarga selalu diberi kesehatan dan Allah bukakan pintu rejeki yang selebar-lebarnya. Aamiiinnn....

16:10 11 Comments