27 Apr 2016

Semur Njamur

Hai hai, kalau biasanya aku share tentang yang berbau craft atau menjahit, kali ini kita rehat sejenak ya. Lagi laper nih, jadi pindah ke dapur dulu. Enaknya makan apa ya?

Hmm, mendung-mendung begini kayaknya makan semur enak juga kali ya. Tapi semur kan identik dengan daging atau jengkol. Cuma aku orangnya kurang suka ama yang berbau-bau daging gitu kalau nggak lagi kepingin banget, jengkol pun juga nggak doyan. Jadi aku mau bikin semur yang rada beda nih. Kebetulan di kulkas ada stok jamur tiram. Hemm gimana kalau jamur tiram ini dimasak dengan bumbu semur. Sudah ada yang pernah cobain belum? ;)




Porsi :
  Untuk 2-3 orang

Bahan yang dibutuhkan :
  - 1 bungkus jamur tiram, suwir-suwir ukuran sedang
  - 2 potong tahu, potong memanjang kira-kira 1x1x3cm
  - 1 buah kentang, kupas dan potong dadu (*optional)
  - 1 batang daun seledri, cincang
  - ½ sdt pala bubuk
  - 2 sdm kecap manis (atau sesuai selera)
  - garam, secukupnya
  - merica, secukupnya
  - bawang goreng, secukupnya
  - kaldu daging sapi, secukupnya (*optional)
  - air, secukupnya
  - minyak goreng, secukupnya

Bumbu halus :
  - 2 siung bawang merah
  - 2 siung bawang putih
  - 2 buah cabe merah besar
  - 1 buah kemiri


Cara memasak :
1. Goreng tahu yang sudah dipotong hingga matang, tiriskan.
2. Siapkan wajan sedang, tumis bumbu yang sudah dihaluskan hingga baunya harum.
3. Tuang wajan dengan kaldu daging sapi. Tambahkan air sesuai selera banyaknya kuah semur yang diinginkan. Masak hingga mendidih.
4. Masukkan tahu dan kentang.
5. Masukkan garam, merica, pala dan kecap, aduk hingga rata.
6. Setelah kentang agak matang, masukkan jamur tiram.
7. Taburkan seledri dan bawang goreng secukupnya, lalu cicipi rasanya. Semakin banyak taburan bawang goreng, akan semakin enak rasanya.
8. Masak hingga jamur matang, jangan terlalu layu.





Yumm, semur jamur tiram siap disajikan besama dengan nasi putih selagi hangat. Yang bikin unik dari rasanya adalah ada khas dari aroma jamur tiramnya. Menu semur njamur ini juga cocok banget nih jadi alternatif menu masakan buat kamu yang vegetarian. Selamat mencoba ya.

Happy cooking.. ^^

16:50 1 Comment

23 Apr 2016

Cara Memasang Juntai pada Bros



Setelah belajar cara membuat juntai anggur di sini, sekarang aku akan membahas cara memasangnya pada bros. Nah biasanya, untuk memasang juntai seperti untuk anting-anting, gantungan, aksesoris pelengkap untuk bandul kalung, atau aksesoris yang berbahan dasar logam, cara pasangnya sih tinggal dikaitkan aja di hook(pengait) atau lubang yang tersedia.

Lalu gimana dong dengan bros yang berbahan kain atau pita. Kira-kira gimana yah cara masangnya biar bisa kuat? Hmm, yuk ah langsung aja kita belajar bareng-bareng yuk. ;)

Siapkan bros dan juntai yang akan dipasang. Siapkan pula jarum jahit dan benang jahit. Lebih baik lagi jika memakai benang jahit polyester atau benang nilon agar lebih kuat.


Kali ini benang yang aku pakai adalah benang jahit polyester. Benangnya aku rangkap dua. Dan buat simpul di ujung benang yang telah dimasukkan ke dalam jarum. Sematkan benang di bagian belakang bros, atur letaknya sesuai posisi juntai yang diinginkan.


Masukkan jarum ke dalam lubang ring juntai hingga menempel pada pangkal benang di bros. Atur posisi juntai seperti yang diinginkan. Pastikan posisi ring supaya celah ring (tempat pembuka ring) berada dibagian atas. Fungsinya agar celah ini tertutup jahitan, sehingga tidak mudah terbuka.


Lalu jahit ring ke alas bros dengan cara menyematkan jarum dari arah ring bagian atas dan memasuki alas bros kemudian menuju ke bagian tengah ring. Tarik benangnya hingga ring bagian atas terikat rapat oleh benang.


Ulangi proses yang sama dengan cara menyematkan kembali jarum jahit ke sebelah jahitan yang sebelumnya. Ulangi hingga dirasa cukup kuat untuk menahan juntai seperti gambar di bawah ini.


Jika selesai, tutup bagian belakang bros dengan alas bros agar jahitan tertutup (terlihat rapi) dan jangan lupa untuk memasang peniti bros. Lihat di sini untuk cara memasang peniti pada bros. Kalau seperti yang sedang aku buat (lihat gambar di bawah), bagian belakang brosnya langsung aku tutup pakai peniti mangkok /peniti bulat. Tempelkan dengan lem tembak (hot glue). Seperti ini nih!


Nah udah kece kan bros juntainya? Hayuk capcuz langsung pakai buat piknik dulu. See yaa... ^^


12:01 No Comments

19 Apr 2016

Menghias Mukena dengan Flanel

Mau tampil beda dari mukena polos yang kamu pakai selama ini? Banyak banget cara untuk makeover mukena polos biar makin kelihatan cantik. Selain menghias mukena polos dengan sulam pita, mukena lama kamu bisa juga dihias dengan kain flanel.


Emang sih yang paling penting adalah ibadahnya, nggak peduli seberapa bagus dan mahalnya mukena yang kita pakai. Tapi nggak ada salahnya juga kan kalau mukena lama kita dimakeover biar tampil beda dari biasanya. Yah hitung-hitung selain agar ibadahnya makin semangat, juga sambil melatih jemari kita ini untuk berkreasi agar makin terampil dan kreatif. ;)

Seperti yang akan aku lakukan kali ini. Kebetulan tangan aku juga lagi gatel pengen ngerjain sesuatu. Yaudah deh, kali ini giliran mukena polos ini yang jadi sasarannya. Biar kelihatan sedikit unyu-unyu tapi nggak lebay, si mukena polos ini mau aku tempelin dengan potongan flanel di beberapa bagian. Sejauh yang aku tahu, teknik ini disebut dengan "applique atau sulam tempel". 


Selain kain flanel, bahan-bahan yang perlu dipersiapkan adalah perlengkapan menjahit seperti benang, jarum dan gunting. Kali ini aku nggak akan menyulam secara manual tapi menggunakan mesin jahit. Karena bahan utama yang aku pakai adalah kain flanel, tentu saja cara pembuatannya lebih mudah daripada membuat sulam perca yang mana kita harus ekstra hati-hati agar tiras kain dapat tertutup rapi.  

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah tentukan pola yang akan dibuat. Gambar dulu saja di kertas. Kalian bisa berkespresi sesuai selera masing-masing. Aku memakai motif bunga yang sederhana seperti ini. 

Gunting pola kertas setelah pola selesai dibuat. Lalu duplikat pada kain flanel, dan potong kain flanel sesuai pola. Buat beberapa sesuai jumlah yang diinginkan. Kemudian tentukan letak sulam flanel pada mukena. Tandai mukena dengan pensil atau jarum pentul. Atau aplikasi flanel yang sudah dipotong tadi bisa langsung dipasang (ditempelkan) di mukena dan sematkan dengan jarum pentul. Usahakan posisinya simetris untuk bagian kanan dan kiri badan pada mukena.

( klik pada gambar untuk memperbesar )

potongan aplikasi flanel yang sudah ditata dan ditempel pada mukena
Jika dirasa posisi flanel sudah pas, lanjutkan untuk menjahit atau menyulam. Tidak seperti sulam perca/flanel pada umumnya yang menggunakan tusuk feston untuk menyulam pinggiran perca ke kain, kali ini aku hanya menggunakan jahitan lurus saja menggunakan mesin jahit. Karena pinggiran kain flanel tidak bertiras (berserabut) *orang Jawa bilangnya njrawut* sehingga tidak masalah jika pinggiran kain flanel tidak ditutupi / disembunyikan. Sebenarnya sih biar cepat selesai dan nggak terlalu ribet juga bikinnya. Hehehe, maklum namanya juga masih belajar. :p

Pertama, aku jahit dulu di bagian tengah bunga dan sekaligus menindas kelopak bunga. Di sini aku sedikit bermain bentuk jahitan yaitu mengikuti garis bermotif zigzag. Caranya sama seperti menjahit lurus biasa, tinggal mengikuti alur garis seperti pada gambar. 

Lalu jahit bagian tepi kelopak. jahit dengan mengikuti bentuk tepi kelopak. Beri jarak 1,5 - 2mm dari tepi flanel. Nah saat menjahit di bagian ini memang harus super hati-hati dan pelan-pelan biar hasilnya bisa rapi. Memang agak susah sih kalau pakai sepatu mesin jahit standar saat menjahit tikungan.

Langkah selanjutnya adalah membuat tangkai bunga. Gambar dulu pola bentuk tangkai bunga pada mukena dengan pensil atau kapur jahit. Lepas dulu bagian daunnya biar nggak mengganggu saat proses menjahit. Lalu jahit mengikuti pola (gambar). Aku memakai pola jahitan zigzag dengan jarak benang yang rapat. Jadi hasil jahitannya seperti di bordir.

Langkah terakhir adalah memasang daunnya. Jahit lurus saja di bagian tengah daun seperti bagian tengah tulang daun. Dan selesai. Ulangi lagi prosesnya pada aplikasi yang lain hingga semua aplikasi terpasang di mukena.


Hasilnya bakalan seperti foto di atas ini. Mukena lama aku jadi makin cantik dan girly yah. Cara ini bisa jadi alternatif juga buat para pemula yang kepingin untuk menghias mukena lama milik kita. Karena cara membuatnya pun juga sangat mudah dan cepat banget.

Happy sewing ya.. ^^

14:31 No Comments

15 Apr 2016

Cara Mudah Membuat Mukena, Cocok untuk Pemula

Nah setelah kita belajar membuat pola mukena sederhana pada artikel sebelumnya, it's time to make it happen now :p . Kali ini kita langsung praktek membuat mukenanya donk. Yuk langsung aja simak cara mudah membuat mukena berikut ini. Mesin jahit kamu sudah siap kan? :)


Kain yang akan aku pakai kali ini adalah kain rayon motif (bahan mukena bali) dengan lebar kain 120cm. Aku memilih kain rayon yang tidak full motif, jadi hanya ada motif di salah satu sisinya saja, sedangkan sebagian besar lainnya tidak bermotif (polos). Biasanya pola mukena sederhana ini juga memang digunakan untuk membuat mukena bali. Karena pada dasarnya mukena bali sudah menggunakan kain bermotif (bercorak), sehingga tidak perlu terlalu menambahkan beberapa aksen tambahanpun juga sudah terlihat cantik.

Lihat juga di sini, cara memotong pola untuk membuat mukena bali.

Siapkan kain yang sudah dipotong seperti pada pola mukena yang sebelumnya sudah saya bahas di sini. Pola mukena tersebut adalah pola mukena sederhana, tanpa ada tambahan pelapis di bagian kepala dan juga tanpa rempel (ruffle). Sehingga membuatnya pun mudah dan tidak terlalu rumit, serta cocok digunakan untuk kita yang masih pemula dalam dunia jahit-menjahit.


Bagian Dagu
Awal mulanya, siapkan bagian dagu yang telah dipotong sesuai pola. Lalu lipat bagian yang lebih panjang menjadi dua sehingga panjangnya menjadi 6cm. Pastikan posisi kain bagian baik saling berhadapan.


 Kemudian buat kampuh dengan lebar 1cm di sepanjang J-K-N , sisakan ruang pada M-N, lalu lajutkan jahitan pada M-I. Jadi M ke N jangan dijahit, beri jarak kira-kira 1,5cm sebagai ruang untuk membalik kain. Setelah selesai dijahit, baliklah kain tersebut melalui lubang M-N sehingga kain bagian baik berada di luar seperti gambar di bawah ini.


Nah untuk bagian dagunya, aku ambil dari bagian kain yang bermotif. Jadi bisa sekaligus bermanfaat sebagai variasi. Oh iya, jangan lupa ya untuk merapikan tiras kain yang ada di bagian yang tidak terjahit dengan cara memasukkannya ke dalam di bagian yang tidak terjahit.


Tali kepala
Lipat lebar bahan menjadi dua dengan posisi kain bagian baik saling berhadapan. Gabungkan pinggiran kain (buat kampuh) dan jahit selebar 1cm. Lalu balik kain dengan bantuan bolpoin atau sumpit, sehingga bagian baik kain berada di luar dan lebar tali kepala adalah 1,5cm.


Siapkan karet elastis lebar 1cm dengan panjang ± 25cm. Masukkan ke dalam tali kepala dengan bantuan peniti hingga posisi ujung karet elastis berada ± 1cm dari ujung tali kepala. Tahan dengan bantuan jarum pentul seperti pada gambar di atas. Kemudian tindas dengan jahitan pada jarak ±1,5cm dari masing-masing ujung tali kepala. Lalu rapikan ujung tali kepala dengan memasukkan tiras kain ke dalam lubang selebar 0,5cm.



Atasan mukena
Siapkan bahan atasan mukena yang sudah dipotong menyerupai seperempat lingkaran sesuai dengan pola yang sudah saya bahas sebelumnya. Langkah pertama adalah menjahit kampuh (menggabungkan dua sisi pinggiran kain) mengikuti garis putus-putus berwarna biru seperti gambar di bawah ini. Jahit kampuh di sepanjang Z-B dengan lebar kampuh ± 1cm dari tepi kain. Sisakan A-Z untuk lubang kepala. Saat menjahit kampuh, posisikan kain bagian baik saling berhadapan (kain bagian buruk menghadap ke luar).

Selanjutnya buat kelim untuk merapikan tiras kain mukena dengan lebar  ± 1cm. Karena nggak punya mesin obras, biasanya aku pakai kelim tindas (double). Caranya tekuk kain ke arah bagian yang buruk  ±  ½ cm, lalu lipat lagi selebar 1 cm kemudian jahit tindas. Lakukan di sekeliling tepi bawah pada atasan mukena, yaitu dari B ke C lalu lanjutkan hingga ke B lagi. Lakukan juga untuk tepi bawah pada rok mukena, yaitu dari  H ke G dan lanjutkan hingga ke H lagi. Dan hasilnya terlihat seperti ini.

Langkah selanjutnya adalah memasang karet elastik untuk bagian dahi. Siapkan karet elastik dengan lebar 0.5-0,75cm sepanjang 15cm. Tekuk pinggiran kain bagian lubang kepala ke arah buruk kain selebar 1cm, sematkan dengan beberapa jarum pentul. Masukkan karet elastik ke dalamnya (menempel ke pinggir tekukan kain), di posisi antara V1 - V2, seperti gambar di bawah ini.

Sematkan jarum pentul pada ujung-ujung elastik ke kain. Lalu jahit, beri jarak  ±  ½ cm dari masing-masing ujung karet elastik (perhatikan gambar kiri bawah). Lalu jahit tepi ruang kepala dengan lebar kelim 1cm, mulai dari titik Z ke A lalu lanjutkan ke Z lagi. Jahit pelan-pelan dan teliti saat melewati bagian yang terdapat karet elastik. Karena akan sedikit susah dan mengganggu proses menjahit, sebab panjang karet elastik lebih pendek dari panjang kain agar menghasilkan kerutan. Pastikan karet elastik tetap menempel di ujung tekukan kain agar tidak ikut terjahit saat membuat kelim. Tarik karet elastik sesekali ke arah kita, sehingga bagian kelim (yang terisi karet elastik) yang sudah terjahit akan membentuk kerutan, seperti pada gambar kanan bawah.


 Lanjutkan menjahit kelim hingga kembali ke titik Z. Dan hasilnya akan terlihat seperti gambar di bawah ini.




Selanjutnya adalah memasang segitiga bagian dagu yang telah dibuat sebelumnya. Letakkan bagian dagu dengan posisi titik K (bagian dagu) berada di bagian Z (bagian atasan mukena). Beri jarak 1cm dari tepi bahan. Tahan dengan jarum pentul seperti gambar di bawah ini.


Agar rapi, aku memasangnya dengan cara seperti gambar di atas ini. Jadi bagian dagunya dipasang dari bagian dalam mukena, lalu sematkan dengan beberapa jarum pentul. Kemudian balik atasan mukenanya sehingga kini kita sedang melihat bagian luar (baik) mukena. Lalu sisipkan lagi jarum pentul dari bagian luar mukena seperti gambar di atas (gambar bagian bawah), dan lepas jarum pentul yang ada di bagian dalam mukena. Setelah itu, jahit tindas tepi bagian dagu (dari bagian luar mukena) dengan lebar 1-2mm. Dan hasilnya akan terlihat seperti ini.


Nah, langkah terakhir untuk membuat atasan mukena adalah memasang tali mukena yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Caranya, tinggal tempelkan masing-masing ujung tali mukena di bagian bawah masing-masing ujung tali elastik (kerutan) pada bagian dahi. Kemudian jahit tindas. Dan hasilnya akan terlihat seperti ini.


detail atasan mukena


Rok mukena
Untuk membuat bawahan mukena atau rok mukena, caranya cukup mudah dan nggak begitu ribet seperti membuat atasan mukena. Langkah awal yang harus dilakukan, sama seperti langkah awal saat membuat atasan mukena, yaitu menyambung kedua tepi kain (membuat kampuh). Untuk bawahan mukena, karena tepi kain F-H (lihat gambar di bawah) bertiras maka tepi kain pada bagian kampuhnya bisa diobras. Karena nggak punya mesin obras, maka aku memakai teknik kampuh perancis. Aku membuat kampuh dengan lebar 1cm, sehingga membutuhkan kelebihan kain  ± 1,5cm untuk masing-masing tepi kain,  ½cm untuk lipatan awal dan 1cm untuk lipatan kedua.

Setelah kampuh F-H selesai dijahit, maka rapikan tiras kain di bagian bawah rok mukena dengan membuat kelim tindas selebar 1cm di sekeliling H ke G dan lanjut ke H lagi. Caranya sama seperti saat membuat keliman atasan mukena. Dan hasilnya akan tampak seperti ini.

Langkah terakhir untuk membuat bawahan mukena adalah membuat ban pingang. Gunakan karet elastik dengan lebar 1,5-2cm. Caranya untuk membuat ban pinggang elastik bisa dilihat di sini. Hasil akhirnya bakalan seperti ini nih.


Dan voila, mukenanya jadi deh. Seneng juga ya kalau bisa bikin mukena sendiri. Meskipun dengan bentuk yang sederhana, tapi masih keliatan kece kan kayak yang jahit :p . Buat yang kebetulan mukena lamanya udah kucel, bulukan atau bahkan bolong-bolong *parah ya :p*, buruan dah capcus jahit sendiri aja. Biar makin pede sewaktu tarawih di masjid pas bulan ramadhan nanti. Eh siapa tau juga tetiba ada yang order minta dibikinin mukena gegara lihat mukena keceh buatan kamu. Hahaha, lumayan buat tambah-tambah ongkos lebaran lah ya. :D

mukena bali tampak depan

mukena bali tampak belakang


Gimana, sudah bisa kan membuat mukena sendiri. Emang sih, pada awalnya kelihatan ribet juga ngejahitnya. Seperti waktu dulu awal aku membuat mukena kelihatannya emang mudah, tapi namanya pemula pasti masih tetep kerasa ribetnya. Tapi percayalah, ini beneran nggak sesulit yang dibayangkan kok. Selamat mencoba yah. ;)

Happy sewing evribadehh... ^^



20:53 1 Comment

11 Apr 2016

Baby Gift Set

Kali ini mau cerita sedikit tentang gift buatan aku untuk baby dari teman aku yang baru aja melahirkan putri pertamanya. Awalnya sih bingung mau kasih kado apa. Hmm, karena sekarang aku punya blog tentang craft dan DIY, kurang oke dong ya kalau kadonya beli di toko. Jadilah aku pede untuk bikin handmade baby gift sendiri *eh,pede apa kepedean ya?*. :D

set sepatu bayi rajut dan bandana rajut

Awalnya sempat galau mau bikin kado apaan. Keputusan terakhir jatuh pada baby gift set yang isinya sepasang sepatu bayi rajut dan bandana rajut. Dan sempat dibikin galau juga dengan ukuran sepatunya, maklum lah daku ini belum punya anak jadi nggak ngerti deh size sepatu bayi. Jadi proses bikinnya juga sempat berulang kali mendedel benang rajutannya gegara ukurannya berasa nggak pas. Berapa kali dedelnya? Ratusan. Hihi becanda, nggak sampai ding. Walau hasilnya masih nggak begitu rapi, tetap kepedean pede aja. Maklum nih lama nggak ngerajut, tapi maksa pingin bikin yang rajutan. :p

Sepatu bayi dan bandana bayi rajut ini aku bikin dari benang katun. Bentuknya juga sederhana banget. Saat merajut, aku sengaja pakai double (dua) benang, biar keliatan tebal dan lebih kokoh. Eh selain itu juga biar cepat selesai juga sih ngerajutnya, hihi. Nah karena pakai double benang, jadi aku pakai hakpen Rose nomor 5/0. Untuk jenis rajutan utamanya, aku pakai tusuk hdc (half double crochet stitch).

Baby Gift Set
Packing baby gift set-nya
Baby Gift Set
Isi baby gift set-nya
Sebenarnya kalau untuk cewek biasanya identik dengan warna pink ya. Tapi aku bikin set sepatu dan bandana rajutnya pakai benang warna biru. Karena sebelumnya aku sudah lebih dulu bikin 3 buah bandana (yang ada di sebelahnya), yang salah satunya adalah bandana berwarna pink dengan bunga putih. Jadi biar ada bermacam-macam warna, aku bikin deh set sepatu rajut dan bandana warna biru.

Untuk tiga buah bandananya aku bikin dari kain rayon spandex, sehingga lembut untuk kulit bayi. Yang dua diantaranya dihiasi dengan bunga dari kain perca. Sayang deh kelupaan nggak kefoto detailnya. Soalnya kalau nggak didokumentasiin kayak gini, aku tuh kadang suka lupa sendiri sudah pernah bikin apaan. Yang paling parah sih kalau mau bikin lagi sesuatu yang sudah pernah aku bikin, suka lupa sendiri gimana caranya, haha. Yah semoga nggak lupa kalau suatu saat mau bikin lagi bandana yang sama. :D

Baby Gift Set
Begaya pakai label Ayumna :p
Yah itu dia gift sederhana dari aku. Semoga ukurannya pas dan yang nerima juga suka. Secara nih bikinnya penuh perjuangan dan berpeluh keringat karena sempat ngelepasin beberapa deret stitch dan pasang lagi berulang kali. Btw, ada yang minat pesan nggak? :p

22:54 7 Comments

8 Apr 2016

Suka Duka Belajar Menjahit



Dulu nih, aku pikir menjahit itu mudah. Tinggal taruh kain di mesin jahit, jalanin mesin jahitnya untuk nyambungin kain, dan jadi deh baju. Ah ternyata nggak semudah yang dibayangkan. Apalagi kalau bikin pola, sampai sekarang aja masih suka pusing tujuh keliling. Maklum, aku sih belajar jahitnya otodidak jadi ya baru punya ilmu yang ala kadarnya. :D

Sukanya Belajar Menjahit

 Apapun jenis kegiatannya, selagi itu kegiatan positif maka sudah pasti dong kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi yang melakukannya. Seperti hal-nya belajar menjahit, tentu ada manfaat dan keuntungan yang bisa kita peroleh, diantaranya seperti:
  1. Bisa membuat sendiri perlengkapan kebutuhan pribadi yang pas dan sesuai selera, seperti pakaian, tas, seprei, selimut, dan lain sebagainya.
  2. Bisa permak/makeover sendiri apalagi kalau lagi ada acara dadakan, dibanding mesti antri di tukang permak kan mending kita permak sendiri aja.
  3. Menghemat biaya, dibanding harus menjahit ke tailor.
  4. Mengembangkan kreatifitas.
  5. Bisa menjadi peluang usaha.
  6. Bangga dengan hasil karya sendiri.

Dukanya Belajar Menjahit

Ada suka, pasti ada duka. Dukanya belajar menjahit tuh juga sudah banyak aku rasakan apalagi bagi aku yang emang belajar menjahit sendiri (otodidak), seperti ini nih contohnya :
  1. Salah ukur dan potong pola. Ini nih yang paling bikin aku pusing tujuh keliling. Apalagi kalau salah potong polanya sudah mentok nggak bisa disiasati dengan apapun. Aaargh, pingin teriak yang kenceng kalau kain kesayangan sampai nggak bisa dipakai gegara salah potong pola.
  2. Jahitan terbalik, seperti jahit kampuh di bagian kain yang bagus. Ini juga pasti ngejengkelin banget kan ya, bikin kita dedel-dedel benang jahitan lagi. Apalagi kalau baru sadar saat jahitnya sudah hampir mau selesai, ahh pengen nangis bombay rasanya.
  3. Salah posisi jahitan, yang harusnya nggak dijahit malah dijahit. Ah ini mah sama aja ujung-ujungnya juga harus mendedel jahitan. 
  4. Jahitan miring, nggak lurus, nggak konsisten. Biarpun mata masih 1000watt, tetep aja bisa-bisanya jahitan masih miring-miring melulu. Dan ujung-ujungnya juga dedel and dedel and dedel again, *fiuuhhh. :(
  5. Permasalahan pada mesin jahit, nah kalau yang ini sudah pasti selalu dialami setiap orang ya. Buat yang masih pemula dan belajar menjahit, pasti rasanya nano-nano deh kalau misal ngalamin kejadian seperti benang mudah putus, jahitan kendur, jarum mudah patah, jahitan nggak jalan, dan permasalahan lainnya. Jantung rasanya udah kayak mau copot aja, sambil bayangin "aarh mesin jahit aku nggak bisa dipake lagi, huaaaaa".

Yah tapi apapun itu, namanya juga masih dalam tahap belajar. Seperti kata-kata di iklan TV tuh, "Nggak ada noda, ya nggak belajar". Solusinya adalah ikuti slogan "it's okay, no problemo, keep going and keep woles", hehehe. Terus berlatih dan teliti, biar nggak kebanyakan dedel-dedel lagi.

Yuk ah lanjut belajar jahit lagi.. ^^


16:26 7 Comments

4 Apr 2016

Membuat Pola Mukena untuk Pemula



Ramadhan sebentar lagi. Ahh, bulan yang sangat ditunggu-tunggu semua umat muslim di seluruh dunia. Emang sih masih sekitar dua bulanan lagi, tapi nggak ada salahnya dong kalau kita persiapkan diri menyambut datangnya bulan ramadhan tahun ini. Termasuk persiapan untuk membuat mukena baru biar ibadah kita makin rajin dan semangat.

Hmm, kali ini aku bukan mau nunjukin tutorial menjahit mukena. Sesuai dengan judulnya, maka kali ini aku bakal tunjukin tips dan trik cara membuat pola mukena sederhana untuk dewasa, jadi cocok banget nih untuk pemula. Sebagai permulaan, kita memang perlu mengenal cara menentukan pola mukena dan panjang bahan mukena yang dibutuhkan biar nggak salah sewaktu beli kain. Jadi sebelum ramadhan tiba, kita bisa sambil hunting-hunting di toko kain dulu kan untuk cari bahan buat mukena.

Bahan membuat mukena

Beberapa waktu kemarin selain banyak yang bertanya tentang cara membuat mukena, ada juga yang menanyakan tentang bahan membuat mukena. Jadi sekalian akan aku jelaskan di sini, sebelum kita belajar cara membuat pola mukena.

Sebenarnya tidak ada aturan baku bahan apa yang harus dipakai untuk membuat mukena. Asalkan kain tersebut nyaman dipakai dan tidak terlau transparan, maka sah-sah saja untuk digunakan sebagai bahan membuat mukena. Dan selain desainnya yang beragam, di luaran sana juga sangat beragam sekali jenis-jenis bahan mukena yang dijual di pasaran.

Jenis bahan yang biasa dipakai untuk membuat mukena adalah katun / katun jepang, sutera / semi sutera, rayon (bahan mukena bali), bahan parasut, bahkan kini ada juga mukena yang berbahan stretch seperti jersey. Selain itu juga ada loh produsen yang membuat mukena berbahan sifon, tapi tentunya menggunakan bahan yang berlapis ya agar tidak menerawang. Seperti halnya bahan pakaian, bahan mukena yang umum dipakai adalah bahan katun. Karena selain nyaman digunakan sebab bahannya yang dingin, kain katun juga memiliki ketebalan yang standar dan juga tidak licin saat dikenakan.

Klik di sini, kalau kamu mau bikin mukena bali.

Butuh kain berapa meter untuk membuat mukena?

Estimasi standar bahan yang dibutuhkan untuk membuat 1 set mukena dewasa :
- Bahan atasan, minimal 2,15 - 2,25 meter.
- Bahan bawahan, minimal 1,5 - 1,6 meter.
- Bahan dagu dan tali, menggunakan sisa potongan pola atasan.
-----------------------------------------------------
*Jadi total panjang kain = minimal 3,75 - 4 meter (dengan lebar kain 115cm atau 120cm).

Mengapa aku beri keterangan minimal? Karena ukuran tersebut bisa saja ditambahkan sesuai kebutuhan. Misalnya ingin membuat atasan mukena yang lebih panjang, 1 set mukena plus tas, mukena extra size (bawahan mukena lebih lebar atau atasan mukena lebih panjang), atasan mukena menggunakan pet, atau untuk membuat mukena rempel (ruffle),  maka memang harus ditambahkan lagi panjang kainnya sesuai kebutuhan.

Mengukur Pola Mukena

Untuk membuat mukena, kamu juga bisa pakai dua motif kain yang berbeda untuk masing-masing atasan dan bawahan mukena. Tinggal disesuaikan saja dengan ukuran seperti yang sudah aku sebutkan di atas. Karena ini adalah pola mukena sederhana dan dikhususkan untuk pemula, maka pola berikut tidak menggunakan lapisan kain di bagian kepala.

Pola gambar di bawah ini menggunakan kain dengan lebar 120cm. Tetap gunakan ukuran yang sama (pada bagian selain lebar kain), jika menggunakan kain dengan lebar 115cm. Setelah kain dibagi menjadi dua menjadi bahan untuk atasan dan bawahan, maka lipat masing-masing bahan menjadi dua bagian seperti gambar di bawah ini.

Catatan : 
* Pola di atas adalah pola yang biasa aku pakai untuk membuat mukena dan menurut aku nyaman dipakai, sudah termasuk kelebihan kain untuk jarak kampuh dan kelim ± 1 - 1,5cm.
* Pola di atas menggunakan bahan kurang lebih 3,75 meter, yaitu :
  ± 2,13 meter untuk atasan (106,5cm x 2), dagu dan tali kepala.
  ± 1,53 meter untuk bawahan, (76,5cm x 2).
* Untuk mukena dewasa, panjang mukena bagian depan (A - B) minimal 105cm.
* Panjang mukena belakang  (A-C) harus lebih panjang minimal 10-15cm dari panjang mukena depan (A-B)  <== berlaku untuk semua variasi ukuran mukena
Siapkan pola atasan mukena yang telah dilipat menjadi dua. Sematkan beberapa jarum pentul agar kain tidak mudah bergeser. Buat garis lengkungan (seperti ¼ lingkaran) mengikuti garis putus-putus berwarna merah (X-Y) seperti pola gambar di atas menggunakan pensil / kapur jahit. Jika dirasa garis lengkungan sudah pas, maka potong kain mengikuti garis lengkungan yang telah dibuat. 

Mengapa garis lengkungan C-X maupun B-Y harus ada jarak kurang lebih 40 cm? Nah karena saat mukena dipakai, bagian X-Y ini berada di bagian tangan kita. Jadi fungsinya agar bagian X-Y ini memiliki ukuran lebih panjang dari panjang mukena bagian depan. Fungsinya untuk menghindari bagian tangan kita (khususnya jari) agar tidak terlihat saat berada di samping badan. Jadi semakin pendek jarak antara C-X dan B-Y, maka semakin pendek pula panjang mukena pada bagian tangan kita saat mukena dipakai.

Sisa potongan bahan atasan mukena tadi, bisa digunakan untuk membuat pola dagu dan tali kepala. Pola di atas adalah pola yang biasa aku pakai untuk membuat mukena dan menurut aku nyaman dipakai. Pola di atas sudah termasuk dengan kelebihan kain untuk lebar kampuh 1cm, jadi pola talinya adalah untuk membuat bentuk mukena dengan tali elastis (karet) selebar 1,5cm. Dan membutuhkan jarak sekitar 2cm untuk ban pinggang, serta 1,5cm untuk kelim tindas (untuk merapikan pinggiran kain) sehingga setelah dijahit panjang A - B (panjang mukena bagian depan) menjadi 105cm. Dan jika selesai dijahit, maka hasilnya akan tampak seperti di bawah ini.

Estimasi hasil ukuran mukena setelah selesai dijahit
berdasarkan pola di atas
Gimana, sudah bisa kan cara membuat pola mukenanya. Kalau ada beberapa hal yang belum dipahami, silakan tinggalkan pertayaan di kolom komentar di bawah ini. Dengan senang hati bakal aku jawab sebisa aku ya. Maklum, aku kan juga masih pemula, hehe. Ah iya, pola mukena di atas ini juga cocok dipakai untuk membuat mukena bali loh. Kalau gitu, selamat hunting-hunting kain dulu ya sambil potong-potong polanya. Sampai jumpa di artikel berikutnya, yaitu cara membuat mukena untuk pemula. :)

See ya... ;)


21:06 38 Comments

2 Apr 2016

Antara April dan Ramadhan

WARNING!
* Ini artikel nggak penting dan garing! Jangan dibaca kalau kamu sedang sibuk. Mending selesaiin dulu deh kerjaan kamu.
* Buat yang lagi nganggur dan nggak ada acara nge-date ama pacar, nggak ada salahnya deh baca artikel ini. 


Ya, "Antara April dan Ramadhan", judul artikel kali ini bukanlah judul cerpen ataupun novel. Pun juga bukan judul komik. Nah terus mau bahas tentang apaan? Pasti kamu kepo ya? :p

Seperti yang kita ketahui di kalender baik yang ada di kantor maupun di rumah, hari raya Idul Fitri 2016 jatuh pada tanggal 6 Juli 2016. Yang artinya, bulan ramadhan atau bulan puasa di tahun 2016 ini dimulai sekitar awal bulan Juni. Terus apa hubungannya sama bulan April? Masih lama kali. Hubungannya adalah karena sekarang (pada saat artikel ini dibuat) adalah bulan April.

Nggak nyambung kan? Aku bilang tadi juga apa. Artikel aku kali ini emang garing. Tapi kalau kamu sudah baca sampai paragraf ketiga ini, berarti kemungkinannya adalah kamu lagi gak ada acara nge-date a.k.a malam mingguan. Huhuhu, kaciaann. :p

Yasud..dahlah, lanjut baca artikel ini aja ya. Terus ada apa dengan "Antara April dan Ramadhan"? Jadi aku akan membahas keterkaitan antara bulan April dengan ramadhan berdasarkan ilmu cocokologi yang baru saja aku pelajari, hehehe. :p

Gini loh, sekarang kan memang masih bulan April, yang artinya kita menginjak bulan ramadhan masih sekitar 2 bulan lagi. Tapi, kalau aku perhatiin nih, sudah mulai banyak bermunculan status teman-teman yang pada nulis "ramadhan sebentar lagi" atau "puasa sebentar lagi" di jejaring sosial maupun status BBM. Apalagi yang punya online shop nih, udah banyak juga yang mulai promo pakaian muslim, jilbab ama mukena. Ya gak sis? :D . Bahkan, kalau aku perhatikan di "search keyword" stats blog aku, beberapa minggu belakangan ini pencarian terbanyak terdapat pada keyword "cara membuat mukena". Ternyata sudah mulai banyak juga ya yang pada mau bikin mukena sendiri. ^^

Ah, emang nggak kerasa ya ternyata bulan spesial yang dinanti-nanti umat muslim setiap tahunnya ini udah mau datang aja. Pasti kebayang juga kan gimana rempongnya kita buat persiapan menghadapi ramadhan sampai menjelang lebaran dan juga mudik. Yakin deh, pasti di bulan ini juga nggak sedikit yang udah mulai persiapan bekal untuk bulan ramadhan. Mulai dari hunting-hunting resep masakan untuk nanti bulan puasa, siapin schedule acara buka bersama, rundingan sama teman-teman untuk acara bakti sosial, mulai mikirin oleh-oleh buat mudik, bahkan buat yang cewek-cewek juga mulai nebus hutang puasa tahun lalu, hihi. Dan nggak sedikit juga yang udah hunting diskonan untuk belanja baju lebaran *eh apa cuma aku aja yang begini, hahaha. Tapi yang paling penting nih ya, jangan sampai ketinggalan untuk mempersiapan ibadah dan iman kita juga agar lebih baik lagi.

Nah karena yang lain pada heboh persiapan lebaran, aku juga mau dong ikutan heboh buat blog ini. Jadi mulai sekarang sampai menjelang lebaran nanti, tentunya aku bakalan lebih banyak bikin DIY seputar tentang perlengkapan maupun persiapan untuk menyambut bulan ramadhan hingga menjelang lebaran. Seperti mukena, jilbab, bros hijab, baju muslim, menghias toples dan lain sebagainya.

Yeay, can't wait to meet ramadhan. Kalau kamu sudah punya rencana apa untuk menyambut bulan ramadhan nanti?

17:05 12 Comments